Selasa, 19 April 2016

Sepenggal Sejarah (Part 1)


Mendirikan sekolah adalah cita2 saya pribadi sejak kuliah. Oleh karenanya saya yg kuliah di fak psikologi univ airlangga, sejak awal perkuliahan membulatkan tekad utk mengambil peminatan Psi Pendidikan. Berbagai kegiatan yg menunjang cita2 tsb sy ikuti termasuk menjadi relawan pengajar anak jalanan bersama sahabat2 saya di kampus.

Berbekal sedikit pengetahuan yg saya dapat di kampus ditambah pengalaman semasa PKL, Skripsi hingga Tugas Akhir, membuat sy tergerak utk membuat konsep pendidikan yg ideal di masa depan. Niat awalnya sih memang sbg bekal mendidik anak sendiri kelak. 

Setelah cita2 tsb di canangkan maka tugas sy selanjutnya adalah meyakinkan org2 terdekat. Dan mulailah dengan orgtua. Diskusi pun dimulai di usia saat itu 20 tahun. Sadar bahwa kelak yg turut memberikan warna pada kehidupan anak ialah nenek dan kakek nya. Maka meyakinkan mereka agar tidak double standar dalam mendidik cucu nya kelak adalah hal yg sangat penting.  

Setelah menikah, agenda kurikulum anak masuk dalam agenda Raker awal pernikahan kami. Harapan agar kelak memiliki anak yg benar2 siap mengemban amanah sebagai khalifah di masa taklif nya, mulai sy presentasikan. Tak langsung setuju, diskusi bahkan perdebatan pun kami lalui, di masa2 awal ta'aruf kami sesungguhnya. Ya bagian dari dinamika yang patut disyukuri. Kurang lebih 6 bulan hingga 1 tahun (kalau tak salah) waktu yg kami tempuh utk menemukan sebuah benang merah. Kesepakatan bersama tentang kurikulum pendidikan & pengasuhan anak.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan hingga tahun pun berganti. Yang dinanti tak kunjung datang. Kurikulum mendidik anak pun sempat kami lupakan. Ketika itu kami sdg jatuh bangun mendirikan usaha. Dalam proses hidup itu pula lah yang justru memperkaya khazanah batin. Hal2 yg tidak didapat di bangku sekolahan selama ini, kami hayati, syukuri dan rekam baik2. Bahwa hidup tak mudah jika tanpa bekal iman dan ilmu. Pendidikan karakter seperti ini yg kerap terlewat semasa sekolah dulu. Husnudzan bahwa ketetapan Allah adalah yg terbaik. Hal inilah yang justru kami syukuri. Bekal hidup selama masa2 yang tak mudah justru memperkaya kurikulum pendidikan anak yg telah lama sy endapkan. 

Hingga sampai pada kesimpulan bahwa, jika tak dapat di implementasikan kepada anak sendiri maka kenapa tidak mengimplementasikannya kepada anak2 lain. Cita2 lama pun sy bangkitkan kembali. Tekad pun kembali bulat. Mendirikan sekolah yang komprehensif dan fokus pada kebutuhan dan potensi individu yg beragam. Bukankah nilai nya juga jariyah? 

 Setelah pergulatan panjang melawan diri sendiri (halaaahhh) sampai lah pada bulan Februari 2012, dengan berbekal tawakal, Triple C Daycare berdiri.


"The Big 5" generasi pertamanya Triple C (tanpa kalian takkan berjalan sejauh ini, mellow, kangeen, hikss)




Model pertamanya Triple C Daycare

To be continue........